Showing posts with label alice nine. Show all posts
Showing posts with label alice nine. Show all posts

Monday, 17 November 2008

SHUNKASHUUTOU part 3

Author: Reila Arashi

Title: Shunkashuutou

Saga, Tora, Hiroto, dan Nao menunggu di luar ruang guru dengan agak bingung dan kesal. Tampaknya mereka akan dimarahi sensei lagi. Nao yang kelihatan paling kesal.

Didalam, Shou sedang dimarahi.

“Mau jadi apa kau kalau begini terus?! kau ini suka melamun dan benar-benar malas. aku tau kalian kemarin itu sebenarnya bolos, walau si ketua kelas bersikeras kali ada urusan,” Sensei berceramah.

Shou malah tampak melamun.

Sensei menggelengkan kepalanya.

Shou ikut-ikutan menggelengkan kepalanya juga.

Giliran saga.

“Sakamoto, apa kau tau aku mengajar pelajaran apa dikelas?” Tanya Sensei pada Saga yang lagi-lagi tampak mengantuk.

Saga terdiam. Ngajar apa sih dia? Er, rasanya aku pernah dengar dia menyebut-nyebut tentang alat reproduksi, pikir Saga bingung.

Sensei menatap Saga dengan pasrah. “Tentu saja kau bingung. Kau selalu tidur setiap jam pelajaran. Mau jadi apa kau ini! Ya ampun.”

Saga menutup mukanya. Tak ingin ketahuan sedang menguap.

Nao.

“Murai, kau juara kelas dan murid berprestasi. Tapi kenapa kau ikut-ikutan bolos dengan anak-anak pemalas itu? Kau membuatku kecewa. Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu ini. Ingat itu,” Perintah Sensei Tegas.

“Baik Sensei.”

Dan Tora.

“Kau otak mesum! Berkali-kali aku menangkap basah kau membaca majalah yang tidak benar. Itu hanya akan menghancurkan masa depanmu.”

“Ya, sensei,” Tora berusaha bersikap ramah.

“Apa itu yang ada dikantung bajumu?” tanpa menunggu jawaban dari Tora, sensei langsung mengambil barang yang ada dikantung baju Tora. Ternyata Rokok.

“Sudah kuduga,” Sensei melempar Rokok itu ketempat sampah.

Tora menyesal sudah bersikap ramah.

Terakhir, Hiroto.

“Makan, makan, makan saja kerjaanmu! Apa kau pernah membuka buku pelajaranmu?!” bentak sensei. Hiroto yang memang sedang kesal balas membentak.

“Berisik! Aku bosan tau!” Hiroto ngeloyor pergi dan membanting pintu.

Sensei benar-benar lelah.

***

Mereka pasti dimarahi. Aku sudah menyakinkan sensei kalau mereka memang benar-benar pergi ke pernikahan tante Saga. Tapi sensei tidak mempercayaiku. Reputasi mereka yang jeleklah yang membuat sensei begitu. Padahal disitukan ada Nao.

Tanpa kusadari jam istirahat ini aku berkeliaran terus disekitar ruang guru. Sampai Saga lewat…

“Sakamoto,” Panggilku nekat. Apa yang sudah kulakukan???!!

“Ng?” Saga berhenti dan memandangku dengan bingung.

“Er, kalian dimarahi sensei gara-gara yang kemaren ya?” Tanyaku. Pergilah wahai kegugupan…

“Begitulah,” Jawabnya singkat.

“Ah, gomen. Padahal aku sudah berusaha menyakinkan sensei. Tapi dia tidak percaya. Gomen,” kataku merasa bersalah sambil membungkukan badan dengan ketegangan yang kusembunyikan mati-matian.

Saga agak kaget. “Sudahlah, kami ini memang selalu menjadi sasaran sensei, kok.”

“Begitu, ya?” Aku merasa agak lega.

Saga tersenyum. Tersenyum dengan manis. Tersenyum untukku.

Aku mematung dan membalas senyumannya dengan senyumku yang kurasa kacau. Dia lalu pergi. Sepertinya ke atap.

Sedangkan aku masih berdiri disini.

“Hey, apa kau melihat Shou?” Tanya seseorang membuatku tersadar. Aku berbalik.

Hotaru rupanya.

“Sepertinya di atap,” Jawabku masih terpengaruh dengan kejadian tadi. Aku masih sulit kembali ke alam nyata.

“Kau kenapa?” Tanya Hotaru heran.

“Tidak apa-apa,” Aku langsung kabur.

“Tadi kulihat dia berbicara dengan Saga,” Gumam Hotaru curiga.

***

Di atap, anak-anak Alice Nine tidak nge-band seperti biasa. Hanya duduk-duduk santai. Mereka tampak kehilangan mood.

Nao sedang serius membaca buku panduan menghadapi ujian kelulusan. Dia memandang Tora yang menekan headset ke telinganya.

“Baca ini,” Nao menyodorkan buku itu ke Tora. Baru melihat sampul depannya saja Tora langsung terkulai lemas. Shou mengambil buku itu dan melihat-lihat isinya dengan malas. Lalu dia memberikan buku itu ke Saga. Tanpa rasa ketertarikan sedikitpun, dia menyodorkannya ke Hiroto dan langsung dilepar jauh-jauh oleh Hiroto.

“Payah,” Gumam Nao.

***

Ujian sebentar lagi. Festival band juga sebentar lagi. Alice Nine, kecuali Nao lebih sibuk memikirkan festival band. Nao tampaknya mengutamakan ujian, namun tak pernah ketinggalan latihan.

Alice Nine, kalau mataku tidak salah, sedikit agak tempramen dan lebih malas daripada biasanya. Suasana yang sungguh tidak menyenangkan. Saga juga lebih cuek daripada biasanya. Dia juga sering menghilang dari kelas. Kalau tidak ada dia, rasanya ada yang kurang…

Suasana yang tidak nyaman begini membuat firasatku tidak enak. Aku mencium bau masalah…

***

to be continue

Friday, 7 November 2008

SHUNKASHUUTOU part 2

Author: Reila Arashi

Title: Shunkashuutou

“Coba lihat,” Hiroto memperlihatkan selebaran berwarna coklat yang agak kusut.

Saga, Tora, Shou, dan Nao berkonsentrasi untuk membacanya.

“Kita harus ikut!” Celetuk Shou.

“Tentu saja, ini adalah event BESAR! Festival band sekolah,” Seru Hiroto bersemangat.

“Baiklah! Kalau begitu mulai sekarang kita harus sering berlatih. Jangan sampai membuat malu band kita yang sedang naik daun ini,” kata Tora.

“YOSH!!!”

“Ngomong-ngomong kalau jam-jam sekarang Onpu studio memberi diskon 50% lho,” Gumam Saga yang mengantuk.

“Benarkah?!”

Yap.”

“kalau begitu kita kesana sekarang. Latihan!” kata Hiroto sambil berdiri. Begitu juga yang lain, kecuali Nao.

“Tunggu dulu,” Sergah Nao.

Ada apa Nao?” Tanya Shou heran.

“Pergi sekarang berarti kita bolos?”

“Benar sekali,” Jawab Hiroto tampak tak perduli.

“Tidak. Aku tidak mau membolos. Lagipula pelajaran pertama belum dimulai,” Tolak Nao galak.

Hiroto tampak sebal. “Kau ini! Membolos sekali ini saja kenapa sih?”

“Huh! Bolos sekali bisa mempengaruhi nilaiku,” Nao tak mau kalah.

Hiroto juga tak mau kalah dan bersiap membalas kata-kata Nao. Namun Tora langsung memotong. “Berisik! Kita ‘izin’ saja. Bilang saja mau pergi ke acara pernikahan tante Saga. Bagaimana?”

Saga menatap sinis Tora. “Tanteku?”

“Kau pikir sensei mau menerima alasan seperti itu? Dan mempercayai kita? Terutama kalian yang imejnya sudah terlanjur buruk dimata sensei?” Tanya Nao kesal.

“Jangan bicara begitu Nao. Yah kalau soal itu sih, kita minta tolong pada dia saja,” kata Tora tersenyum.

***

Pelajaran pertama sudah mau dimulai, tapi Alice Nine tidak terlihat. Mereka dimana ya? Saga mana ya?

Apa mereka mau membolos?

“Hey,” panggil seseorang. Aku berbalik. Rupanya Tora. Dibelakangnya berdiri Alice Nine yg lain. Kenapa Nao bermuka kusut begitu?

Ada apa?” Tanyaku heran. Tumben mereka ada urusan denganku.

“Kami mau minta tolong. Ehm, kami mau izin pergi ke pernikahan tante Saga. Tolong katakan itu pada sensei ya,” Pinta Tora.

“Kenapa harus aku yang mengatakannya?” Tanyaku lagi. Kumohon Saga jangan pandangi aku terus…

“Yah, kau kan ketua kelas. Lagipula kalau kami yang bilang, sensei tidak akan percaya. Tolonglah kami ketua kelas,” Tora memohon dengan pandangan memelas. Aku jadi tidak tega…

“Baiklah,” Kataku akhirnya. Mereka bersorak senang.

“Kau baik sekali!”

“Ayo pergi! Nanti sensei datang.”

“Shou mau kemana?” Tanya seorang gadis. Dia Hotaru, anak kelas 2A. Pacar Shou. Mereka sering bertengkar. Tapi mesra sekali. Perpaduan yang aneh.

Shou tampak kaget. “Anu, aku mau ke pernikahan tante Saga.”

“Apa kau akan kembali untuk makan siang?” Tanya Hotaru khawatir.

“Tidak. Aku tidak akan kembali sampai jam sekolah berakhir. Aku kembali besok. Waktu sekolah mulai lagi,” jawab Shou ketar ketir.

Hotaru medadak jadi kesal. “Padahal aku sudah membuat makan siang untuk kau! Shou jahat!” Hotaru berlari keluar. Shou berteriak memanggilnya.

“Hota! Dengar dulu penjelasanku! Kau jangan marah dulu!”

“Hey Hotaru san! Makan siangnya buatku saja!” seru Hiroto dan langsung mendapat jitakan oleh Shou.

“Dia marah lagi,” Kata Shou bingung.

“Sudahlah, nanti juga baik lagi. Ayo pergi,” Ajak Tora. Shou menurut dan mengambil tasnya dengan tidak bersemangat.

Mereka pergi. Mataku terus mengikuti mereka, lebih tepatnya Saga, sampai menghilang dari pintu. Dan… Saga mendadak menatapku balik. Aku langsung menunduk! Ya tuhan! Setelah beberapa menit, aku memberanikan diri untuk mengangkat wajahku. Mereka sudah tidak ada.

***

Keeseokan harinya disekolah,

“Hota, kau jangan marah lagi ya? Aku kemarin memang harus benar-benar pergi. Kau harus mengerti,” bujuk Shou dengan pandangan mata yang amat sangat menyesal. Hotaru luluh. Tapi tak mengatakan apa-apa.

“Hota, katakanlah sesuatu! Jangan membuatku semakin merasa bersalah,”

“Aku sudah membuat makan siang. Kau harus memakannya,” Kata Hotaru dengan muka memerah. Shou senang sekali.

“Tentu saja!”

Tampaknya mereka sudah berbaikan. Baguslah. Aku memandang berkeliling. Saga sedang melamun. Apa yang sedang dipikirkannya ya? Yah Saga, kau benar-benar tampan. WHOA! Lagi-lagi aku tertangkap basah oleh Saga. Dia menatapku balik. Aku langsung memalingkan wajah ke arah Hiroto yang sedang makan dengan lahap.

“Kenapa memandangiku? Kau mau?” Hiroto menawariku makan. Aku menggeleng. Aku jadi sangat tegang. Apa Saga masih melihatiku? Akh! aku ini bodoh. Bisa ketahuan begitu.

“Ehm,” Sensei mendadak masuk kekelas. Kelas mendadak menjadi hening.

“Murai Naoyuki , Kohara Kazamasa, Sakamoto Takashi, Amano Shinji, Ogata Hiroto, kalian berlima harap ke kantor guru sekarang. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian,” perintah sensei dingin. Alice Nine…

***

TO BE CONTINUE

Akhirnya jadi juga part 2! Setelah sibuk dan otak buntu, akhirnya! Yah, sorry bagi yang membaca ini pic. Gomen, kalo jelek. Dibikin ditengah pressure-pressure ma banyak hal deh yg menyita waktu. Part 3 nyusul. Gw juga males bikin panjang- panjang. Gw cepet2 supaya tamat.

Friday, 17 October 2008

Shunkashuutou part 1 (Reila Arashi's version)

SHUNKASHUUTOU Part 1 (Reila Arashi’s version)

Author : Reila Arashi

Tittle: Shunkashuutou

This fanfic inspired by Shunkashuutou Pv yg keren itu.

Kelas 2B, SMA Mori, Tokyo,

Hari ini berjalan seperti biasa. Tapi berada di kelas ini bagiku tidak biasa. Ada lima orang special di sini. Special bagi para cewek. Mereka adalah ALICE NINE!!! Band sekolah yg lagi popular sekali. Ada shou(vocal), Saga(bassist), Hiroto(guitarist), Tora(guitarist), dan Nao(drummer).

Tapi… coba kalian lihat sendiri. Mereka benar-benar… tidak peduli pada sensei yg sedang mengajar! Kecuali Nao. Dia tampak serius memperhatikan apa yg sedang sensei terangkan. Dia memang pintar dan rajin. Dia juga selalu mendapat peringkat satu lo! Yah, berbeda dengan anggota Alice Nine yg lain. Shou sedang asyik melihat keluar, entah apa yg dia lihat. Hiroto makan dengan rakus begitu! Er, dia menutupi makanannya dengan buku. Tora membelakangi sensei. Dia membaca majalah. Aku curiga itu majalah yg tidak benar… Saga? Tidur. Seperti biasa, dia tampak manis…

“Baiklah anak-anak, sampai sini ada yg belum dimengerti?” Tanya Sensei. Dia melihat sekeliling dan pandangannya berhenti pada Alice Nine. Kecuali Nao tampaknya. Anak-anak lain jadi ikut melihat mereka. Keempat anak badung itu sama sekali tidak sadar kalau mereka menjadi pusat perhatian sekarang.

Sensei naik darah! Dia tampaknya lelah sekali mengahadapi mereka berempat. Mereka selalu seperti itu! Bukan hanya kali ini saja.

BUKH!!!

“Eeeh!” Shou kaget.

PLAK!!!

“Aduh!” Makanan Hiroto terjatuh.

“Laaah? Majalahnya…” Tora mengeluh. Sensei mengambil majalahnya.

“Majalah yg merusak moral!”

BLETAK!!!

“Ng?” Saga terbangun.

“Fiuh…” Nao tampak tidak mau tau.

Sensei memandangi mereka dengan murka.

“KELUAR KALIAN!!!!!!!!”

Di luar,

Keempat anak itu terdiam sambil berdiri di koridor. Mereka bukan merenungi dan menyesali kesalahan yg telah mereka perbuat. Tapi Shou sibuk memikirkan mobil yg dia lihat melintas waktu dikelas tadi, Hiroto masih merasa lapar, Tora memikirkan cara untuk medapatkan kembali majalahnya karena harga tidak murah, dan Saga masih mengantuk.

“Tapi lebih enak disini kan? Di dalam membosankan,” Gumam Hiroto.

“kau benar pon,” kata Tora.

Bletak!

“Apa sih, Shou?” Saga memegangi kepalanya dengan kesal gara-gara dijitak Shou.

“Aku hanya meniru sensei sewaktu menjitakmu tadi. Itu lucu sekali!” Seru Shou sambil tertawa. Yg lain ikut tertawa.

“Mmm, baiklah! Saga berubahlah menjadi kepribadianmu yg jahat. Dan disaat itulah aku menjadi Hiroto-man. Kita bertarung sampai mati!” Hiroto tampak bersemangat dan mengacungkan tinjunya ke Saga.

“Boleh saja,” Saga memejamkan matanya berusaha untuk berkonsentrasi.

“Lalu kami jadi apa?” Shou menujuk dirinya dan Tora.

“kau jadi cewek yg tidak berdaya sekaligus korban kejahatan Saga. Dan Kau Tora, kau jadi polisi saja! Yg awalnya sok berani tapi pada akhirnya memohon bantuan Hiroto-man.”

“Eeeeekkhh??!!!”

“Ayo kita mulai!”

Sementara itu di dalam kelas,

“Jawab pertanyaan yg ada dipapan tulis ini dan wak…” perkataan sensei terputus karena suara-suara ribut yg berasal dari luar.

“Tolong! Ada orang jahat!”

“Hahahaha!!!”

“Bagaimana ini aku tidak sanggup melawannya! Dia terlalu kuat!”

“Jreng! Jreng! Akulah Hiroto-man! Pembela kebenaran, penumpas kejahatan dan penjaga perdamaian!”

Kapur yg digenggam sensei sampai hancur. Aku hanya berdoa semoga mereka tidak apa-apa. Terutama Saga…

Brak!!!

Pintu kelas terbuka dengan keras. Keempat anak itu kaget! Lalu mereka bertingkah sok polos seakan-akan tidak melakukan kesalahan apapun. Sensei rupanya hanya memandangi mereka dengan geram, tapi tidak melakukan apapun. Mungkin dia lelah menghadapi mereka.

Syukurlah…

***

Treeeng…!!!

Bel pulang berbunyi. Yah, saatnya pulang. Alice Nine sepertinya senang mendengar bunyi bel, terutama Hiroto. Dia langsung berlari keluar menuju loker begitu sensei keluar untuk mengambil gitarnya. Alice nine yg lain mengikutinya.

“Atap performance, eh?” Seru Shou bersemangat.

“Let’s go!!!”

Wah, mereka akan melakukan atap performance lagi!!! Atap performance maksudnya mereka akan main band diatap. Anggap saja atap itu milik mereka, soalnya mereka tidak memperbolehkan siapapun berada disana. Bahkan hanya untuk menonton mereka saja. Kau bisa dibunuh! Sayang, padahal aku ingiiiiin sekali menonton mereka. Aku ingin melihat Saga. Walau harus bayar tiket ke atap tak apa. aku sudah lama menyukai Saga. Bahkan sebelum Alice Nine terkenal. Lah? Kenapa aku malah mengocehkan hal yg tidak jelas! Lupakan Saja.

Kelima cowok cakep itu menaiki tangga. Hiroto mengoceh tentang lagu yg baru diciptakannya. Sepertinya mereka mau memainkan lagu baru itu. Yak! Pintu atap ditutup.

Dan aku hanya bisa mendengar dari tangga kalau mereka sudah mulai bermain. Suara bass Saga terdengar dari sini.

****

TO BE CONTINUE

Sekilas tentang fanfic ini. Setelah menonton Pv Shunkashuutou gw langsung jatuh cinta! Keren bgt tuh pv. Pv Arisu fav. Gw nih. Dari menonton Pv ini, trus mengkhayal terus-terusan, akhirnya terciptalah ini fanfic. Fanfic ini masih ada lanjutannya. Part 1 baru pengenalan tokoh. Masalah belum muncul. Mungkin di part 3. Part 2 kira2 nyeritain awal mula masalah terjadi. Kira2 gitulah.

Saturday, 4 October 2008

I just can't live without you...

Genre: sad tragic, bl

Author: Reila Arashi

Pairing: UruhaXHiroto

Peti mati itu perlahan diturunkan. Tanah mulai menutupinya hingga akhirnya peti mati itu tak terlihat lagi. Bunga-bunga mulai ditaburkan. Semua org yg mengelilingi makam itu tidak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata. Semua orang menangis. Namun kesedihan mereka tak sebanding dengan kesedihan seseorang yg ada disana. Seseorang yg berdiri paling dekat dengan nisan makam itu.

“Pon..”

Hiroto menoleh. Rupanya Shou yg memanggil.

“Ayo pulang. Acaranya sudah selesai.”

Hiroto diam. Dia menampik ajakan Shou. Dia masih ingin disitu. Dia masih ingin dipemakaman itu.

“Pon…” panggil Shou lagi.

Hiroto masih diam. Tiba-tiba pundaknya ditempuk dengan lembut.

“Hiroto, aku tau kau sangat kehilangan dia. Kami pun begitu. Bahkan sejujurnya kami tidak rela dia pergi,” ucap Aoi sedih.

“Yah, tidak ada lagi orang yg akan menantangku main game,” kata Kai sambil menerawang ke atas. Memikirkan kembali masa-masa itu.

“Setidaknya aku tidak akan mendengar dia membicarakan dirinya terus. Dia itu suka sekali memuji-muji dirinya sendiri. Dia…” reita menunduk. Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Orang narsis di dunia ini berkurang satu deh,” kata Ruki sambil mengusap air matanya yg tampaknya tidak mau berhenti mengalir. Saga menepuk-nepuk pundaknya, berusaha untuk menenangkannya.

“Tapi hidup jalan terus. Kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Dia pasti sedih dan tidak tenang bila melihat kita begini. Kita harus tegar dan tetap tersenyum. Terutama kau Hiroto, kau harus tetap bersemangat!” kata kai yakin. Rupanya dia bertekad untuk tidak jatuh terlalu dalam ke dalam kesedihan. Walau hatinya perih sekali.

Hiroto berusaha untuk tersenyum. Tapi rasanya sulit sekali untuk melakukannya. Hatinya benar-benar hancur.

“Sebaiknya kita semua pulang. Hari semakin gelap,” kata Tora.

“Ya, ayo..” ajak Nao.

Sulit sekali bagi Hiroto untuk menggerakan kakinya. Dia masih ingin tetap di situ. Masih ingin memandang nisan itu.

Shou menarik tangannya. “Ayo, pon..”

“Goodbye our big brother. We won’t forget you! Kau akan selalu dikenang sebagai personel The Gazette yg hebat,” ucap kai tulus.

“Yeah, goodbye my best partner. Kau adalah gitaris yang paling keren…” lirih Aoi. Mereka semua akhirnya melangkah pergi. Namun Hiroto belum melepaskan pandangannya dari nisan marmer yang bisa itu. Kata-kata yang tertulis dinisan itu masih malayang-layang dikepalanya.

TAKASHIMA KOUYOU

09-06-1981

25-06-2008

“Uruha…”

***

Hiroto masih membisu. Sejak dari pemakaman tadi dia tidak berbicara sedikit pun. Dan sekarang dia berbaring sendirian di ranjang tempat dia dan Uruha menghabiskan malam bersama.

Hiroto mengingat kembali kenangan-kenangannya bersama Uruha. Saat pertama kali bertemu Uruha, saat Uruha menyatakan cinta padanya, saat Uruha mengajaknya ke Disneyland, saat dia bertengkar dengan uruha, saat dia ketakutakan karena petir dan uruha memeluknya sepanjang malam untuk menenangkannya, saat Uruha memegang tangannya, saat Uruha menciumnya… saat2 itu… saat2 yang ingin Hiroto ulang kembali…

Semakin memikirkannya, kepala Hiroto semakin sakit. Dia benar2 merindukan uruha. Dia sangat merasa kehilangan. Dia ingin Uruha di sini untuk mengucapkan selamat malam kepadanya. Seperti yang Uruha lakukan setiap malam. Dia hanya menginginkan Uruha kembali. Dia sangat menginginkan Uruha kembali… hanya Uruha…

Dia hanya ingin bisa bersatu dengan Uruha.

Hiroto berdiri. Dia seperti mendapat ilham. Dia berjalan menuju lemari dan tampak mencari-cari ‘sesuatu’. Dia kahirnya menemukan ‘sesuatu’ yg dia cari…

“Percuma aku hidup kalau kau tidak ada di sampingku,” lirih Hiroto. Dia memandangi pisau yg ada ditangannya. “Hanya ini cara satu2nya agar aku bisa bersatu lagi denganmu,” Hiroto tersenyum.

“Aku datang Uruha…”

Tapi…

“Pon…”

Hiroto terkejut. Pisau yg ada ditangannya sampai terjatuh.

“Uruha?”

“Ya… ini aku pon…”

Hiroto menoleh ke arah suara itu. URUHA?! Tak salah lagi! Tatapan mata itu, rambut pirangnya!!

Hiroto menjerit dan berlari ke pelukan uruha. Uruha tersenyum.

“Uruha!!! Kau kembali! Jangan tinggalkan aku lagi… aku tidak bisa hidup tanpamu…”

Uruha masih tetap tersenyum. Dibiarkannya Hiroto menangis dipelukannya selama beberapa saat. Lalu kedua tangannya dia memegang pundak Hiroto dan dia memandang dalam2 pada kedua mata Hiroto.

“Pon, aku disini Cuma sebentar.”

Hiroto yg sejak tadi terisak menjadi terdiam. “Maksudmu?”

“Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal karena aku akan ‘benar-benar’ pergi. Pon, kumohon jangan lakukan hal tadi. Belum saatnya untukmu… kau harus tetap hidup dan terus berjuang.”

Tangis Hiroto kembali pecah. Kali ini lebih nyaring dan pilu.

“Uruha…”

“Selamat tinggal pon-pon, jaga dirimu baik-baik. Aishiteiru…” ucap Uruha lembut. Dia lalu mencium kening Hiroto dengan hangat.

“TIDAK!!! URUHA JANGAN PERGI!!! JA.. Uruha? URUHA! URUHA!” Hiroto terus menjerit-jerit memanggil nama Uruha. Tapi uruha sudah pergi. Benar-benar pergi untuk selamanya…

“Uruha jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu! Uruha.. Uruha…”

“Pon?”

“URUHA!!!”

“Pon? Pon-pon!”

Hiroto membuka kedua matanya yang bersimbahan air mata. Dia menoleh ke arah kea rah suara yg memanggilnya. Suara itu adalah suara Uruha yang memandanginya dengan bingung dan khawatir.

Ada apa pon? Dari tadi kau menjerit-jerit memanggil namaku terus.”

Nggak tanggung2 Hiroto langsung memeluk Uruha.

“URUHA!!!”

“Eeeh?” Uruha semakn bingung dibuatnya.

“Uruha! Jangan mati! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!”Hiroto berteriak histeris dan uruha mendadak tersenyum. Rupanya dia paham kalau pon-ponnya tersayang bermimpi buruk tentangnya.

“Kalau kau mati, aku juga akan mati! Kalau kau pergi, aku akan ikut pergi! Kemanapun kau pergi…”

“Pon, aku masih hisup. Buktinya kau bisa menyentuhkukan? Dan aku tidak pergi kemana-mana. Sepanjang malamkan aku selalu di sampingmu.”

Hiroto masih terisak. Uruha mengelus-elus kepalanya dengan lembut. “kau Cuma bermimpi buruk. Jangan terlalu dipikirkan.”

Hiroto memandang Uruha yg amat ia sayangi.

“Kau janji ya tidak akan meninggalkanku.”

“Ya, aku janji. Aku akan selalu disampingmu.” Hiroto tersenyum. Uruha lalu mencium kening Hiroto lalu turun ke bibir Hiroto. Mereka berciuman dengan hangat. Mimpi buruk Hiroto seperti melebur dan terlupakan.

Owari…

****

Aneh,,,

Jadi merasa mual.