Showing posts with label Fanfic. Show all posts
Showing posts with label Fanfic. Show all posts

Sunday, 12 April 2009

LUNA AFTER MIDNIGHT Chapter 3

Title: LUNA AFTER MIDNIGHT
Author: Reila Nakahara
Pairing: Choi Siwon *Super Junior!!!*
Genre: Romance
This is really really created by me


Aku membeku. Tak menyangka kalau dia masih disini. Apa dia menunggu perubahanku? Sepertinya begitu. Dia agak kaget tapi langsung mengendalikan diri. Dan sekarang dia duduk disampingku. Kami masih bertatapan dan tidak mengeluarkan suara sama sekali. Aku tidak tahu harus berkata apa. Lama, lama sekali kami berdua diam saling memandang dalam kegelapan malam yang sepi. Sampai akhirnya dia bertanya.
“Siapa namamu?”
Aku agak bingung, tapi kujawab saja pertanyaannya. “Luna.”
Dia tampak berpikir. “Nama yang bagus,” Komentarnya tanpa ekspresi. Huh, kenapa dia begitu? Apa karena saking shocknya melihat pohon menjadi manusia dia jadi tak tahu cara berekspresi? Aku tadinya mau mengucapkan terima kasih, tapi tidak jadi.
“Namaku Choi Siwon,” Katanya, masih tanpa ekspresi. Aku agak kaget. Choi Siwon? Jadi itu namanya...
“Namamu juga bagus,” Aku berkomentar agak canggung. Dia diam. Dia ini kenapa sih?
Siwon berdeham. Lalu menatapku dengan tatapan yang menusuk, sampai aku jadi deg-degan. Dia tampan...
“Bisakah kau menjelaskan peristiwa aneh ini? Tentang dirimu,” Tanyanya. Kali ini aku melihat rasa penasaran terpancar dari matanya.
Aku diam. Apa kuceritakan saja padanya? Tapi aku tidak mengenal dia. Siapa tahu dia orang jahat. Siwon sepertinya menyadari keraguanku.
“Aku tidak punya maksud apapun. Aku hanya ingin tahu. Aku tidak mau hal ini terus bergentayangan dalam pikiranku. Aku butuh penjelasan,” Katanya berusaha meyakinkanku. Tentu saja kalau aku jadi dia, aku pasti akan menuntut penjelasan dari perisitwa ganjil ini.
“Baiklah,”Aku menghela nafas. Siwon memusatkan perhatiannya padaku. Kami berdua begitu dekat. Kuharap dia bergeser sedikit.
“Memang yang terjadi padaku itu sulit dipercaya dan tak masuk akal, tapi ini memang terjadi,” Kataku memulai. ”Aku dulu sama sepertimu, aku juga manusia normal. Tapi aku terlalu bodoh dan menyia-nyikan hidupku, hingga jadi seperti ini,” Aku terdiam sejenak. Kenangan masa laluku tergambardengan jelas. Begitu menyakitkan.
Angin malam berhembus, Siwon agak gemetar. Sedangkan aku biasa saja. Mau angin dingin atau panas sama sekali tak ada pengaruhnya untukku. Siwon melepaskan jaketnya.
“Pakai ini,” katanya. Aku tertegun. Dia ini baik sekali. Padahal dia kedinginan, tapi masih memikirkan orang lain juga.
“Tidak usah. Kau saja yang pakai. Lagipula aku tidak merasa kedinginan. Aku tidak bisa merasa kedinginan.”
Siwon tidak yakin.
“Percayalah padaku,” kataku meyakinkannya. Dalam hati aku senang Siwon memperhatikanku.
“Baiklah,” Dia memakai kembali jaketnya.
Hening lagi. Tapi Siwon memecah keheningan.
“Apa yang kau lakukan hingga jadi seperti ini?” Tanyanya setengah berbisik. Apa yang kulakukan? Tentu saja dia akan menanyakan itu. Apa yang aku lakukan adalah hal yang paling bodoh dalam hidupku.
“Aku membunuh diriku sendiri,” Gumamku lirih. Siwon terkejut. Terpancar dari wajahnya. Kami terdiam lagi.
“Tapi aku diberi kesempatan kedua,” Aku memecah kesunyian. Aku juga tidak mau buang-buang waktu. Sekarang sudah hampir jam dua. “Aku membuat perjanjian. Aku memohon untuk menjadi manusia lagi. Dikabulkan, tapi dengan syarat aku harus menjadi pohon selama 20 jam baru setelah tengah malam sampai jam empat pagi aku berubah menjadi manusia. Dan kalau aku tetap bertahan menjadi manusia setelah jam empat, aku akan menghilang. Lenyap dari dunia ini. Dan takkan pernah mendapat kesempatan lagi.” Aku mengakhiri ceritaku.
“Aneh,” Gumam Siwon pelan.
“Memang,” Kataku menimpali. Lagi-lagi kami terdiam. Aku tidak tahu harus bicara apa.
Siwon menatapku, tampak ragu. “ Er, maaf kalau aku menanyakan hal ini. Em, mengapa kau mau hidup lagi didunia ini? Sebagai manusia pohon lagi.”
Dia benar. Bagi orang yang membunuh dirinya sendiri, yang berarti ingin mati dan pergi dari dunia ini, tentu saja keinginan untuk hidup lagi sangatlah aneh. Tapi aku, yah...
“Penyesalan selalu datang terlambat. Aku menyesal. Disaat terakhir aku merasa tak pernah melakukan sesuatu yang berguna. Jadi aku ingin hidup lagi.”
“Apa kau sudah melakukan sesuatu? Yang berguna?”
Rasanya aku mau menangis. Orang ini benar-benar membedah diriku. Dia membuka ketakutanku.
“Maaf, maaf Luna. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih dan tertekan,” Ucap Siwon yang tampak menyesali pertanyaannya. Apa wajahku menunjukkan kesedihan? Tapi aku senang, lagi, dia memperhatikanku.
“Tidak apa-apa. Kau menyadarkanku. Semenjak aku menjadi manusia pohon aku tak pernah melakukan apapun. Aku hanya duduk disini, menatap langit gelap dan melamun. Terkadang aku sembunyi kalau ada orang. Aku tak pernah mau pergi jauh dari sini. Aku takut takkan bisa kembali lalu berubah menjadi pohon dan menghilang. Takkan ada kesempatan lagi untukku. Aku terlalu takut,” Dan bingung. Ya, aku bingung dengan kehidupan kedua yang kujalani ini. Tuhan kumohon jangan jatuhkan air mataku.
“Aku mengerti,” Gumam Siwon pelan.
Kami terdiam lagi. Aku agak lega karena menumpahkan sedikit beban dalam hatiku. Ketakutanku. Paling tidak Siwon tidak berkomentar yang aneh-aneh.
“Kau tahu, kau orang pertama yang berbicara denganku,” Kataku sambil menunduk.
“Benarkah? Aku merasa terhormat,” Katanya kedengaran senang. Tapi ekpresinya berubah menjadi heran. “Apa kau tak mengajak bicara orang mabuk lainnya?”
Aku terkejut mendengar pertanyaannya. “Itu, er, aku tak pernah mendekati mereka. Seperti yang kubilang tadi, aku selalu sembunyi. Orang-orang mabuk dan yang lainnya, mereka menyeramkan. Baru kau saja yang...” Aku tak sanggup melanjutkan perkataanku. Apa mukaku memerah? Tidak, ini terlalu melakukan untuk interaksi pertamaku dengan manusia normal. Aku memalingkan wajah dan menunduk. Terlalu memalukan.
“Aku takkan bertanya kenapa,” Kata Siwon terdengar geli. “Aku yakin sesuatu dari diriku menarikmu untuk mendekatiku.”
Wah, dia narsis...
“Sudahlah aku senang bisa bertemu denganmu. Aku bisa tau kejadian yang luar biasa ini. Kalau tidak lihat sendiri, aku takkan percaya.”
Dia senang bertemu denganku. Aku pun begitu. Rasanya baru pertama kali ini aku merasa senang. Baik dikehidupanku yang sebelumnya sampai sekarang, aku sulit merasa senang. Aku bersyukur menolongnya waktu itu.
“Mmm, Luna?” Panggil Siwon.
“Ada apa?” Tanyaku ingin tau. Sepertinya dia ingin bertanya lagi.
“Waktu kita bertemu kemarin, kau ingat pembicaraan kita? Kau ingat kau berkata aku tak boleh lari? Dan aku bertanya bagaimana caranya. Tapi kau tak menjawab dan malah berubah hingga membuatku shock. Nah, sekaranglah saatnya kau memberi tahu, bagaimana caranya agar kita tidak lari dari masalah? Tolonglah,” Siwon memandang ke arah jam taman dengan agak khawatir. Satu setengah jam lagi aku akan berubah.
“Memangnya apa masalahmu? Coba kau ceritakan dulu,” Kataku prihatin. Jadi dia masih memikirkan percakapan kami kemarin ya? Apa masalahnya memang berat?
Ekspresi wajah siwon merubah suram. “Ayahku masalahku,” Lalu dia terdiam. Aku menebak kalau mereka tidak akur.
“Semenjak Ibu meninggal, ayah berubah. Dia terus mengaturku. Dia merasa berkuasa atas diriku. Menyuruhku melakukan ini itu semua yang dia mau. Tujuannya untuk mempersiapkanku menjadi pemimpin perusahaannya kelak,” Siwon berhenti sebentar. Dia terlihat sedih. Aku jadi semakin prihatin. “Kalau aku melawan, dia akan menekan dan mengintimadiku. Dia punya banyak cara untuk itu. Dan aku selalu berhasil merasa tertekan dan terintimidasi olenya. Jadi karena aku lelah melawannya, aku ikuti saja apa maunya. Walau terkadang aku benar-benar ingin memberontak, tapi aku selalu menyerah duluan,” Dia tertawa, tawa tanpa keriangan sama sekali. “Jadi aku lari saja, hanya itu yang bisa kulakukan.”
Aku menimbang-nimbang apa yang akan kuucapkan. “Apa kau, takut pada ayahmu?” Tanyaku sambil berbisik. Aku yakin itu yang dia rasakan. Dia bisa saja melawan, aku yakin. Tapi ada sesuatu yang menghalanginya. Ketakutannya.
Siwon menatapku tajam. Ukh, aku langsung menyesal mengatakan hal tadi. Tapi pandangannya berubah menjadi sedih.
“Kau benar. Aku memang takut padanya. Dia sering berkata bahwa tanpanya aku bukan apa-apa. Tanpa hartanya, aku tidak bisa merasakan kenyamanan dalam hidupku. Dia benar. Jadi dia merasa berhak atas takdirku,” Siwon mencengkram rambutnya.
“Apa kau bisa mencoba dan menghadapi hidup tanpa kenyamaan itu?”
Siwon berpaling menatapku. “Aku tak tahu,” Jawabnya dramatis.
Aku tersenyum. “Seandainya kau mau mencoba, kau pasti bisa keluar dari masalahmu. Keluar dari cengkraman ayahmu. Dengar Siwon, dunia tak sesulit yang kau bayangkan. Aku sering merasakan kerasnya jalanan. Memang tidak nyaman, tapi kau bisa merasakan kebebasan dan menentukan sendiri takdirmu. Kau hanya perlu berusaha dan bertahan, jangan pernah menyerah.”
“Seperti apa hidupmu dulu,” Tanya Siwon.
Aku memandang ke atas. “Segelap langit diatas. Kelam dan sulit,” Aku menghela nafas. “Bodohnya, aku selalu lari. Seandainya dulu aku mau menghadapi masalahku.. Yah, tapi itu sudah berlalu.”
Dan lagi-lagi kami terdiam. Aku melirik Siwon diam-diam. Dia tampak merenung, berpikir. aku tak mau mengganggunya. Tuhan, apa maksudmu membawa dia kedalam kehidupanku? Apa akhirnya aku melakukan sesuatu yang berguna? Memberinya nasihat? Apa itu bisa dibilang berguna? Aku tak tahu...
Kami masih diam membisu. Yang terdengar hanya suara hembusan angin yang bertiup. Langit masih gelap dan aku langsung tersentak. Sudah jam setengah empat. Waktu berjalan dengan cepat.
“Er, Siwon,” Panggilku hati-hati, takut mengganggunya.
Dia menoleh.
“Sudah setengah empat. Sebentar lagi aku akan kembali menjadi pohon. Sebaiknya kau pulang, sudah subuh begini.”
Siwon tersenyum. “Aku pulang. Harus ada yang diselesaikan. Terima kasih, Luna,” Dia berdiri, aku juga ikut berdiri.
“Hati-hati ya.”
Siwon beranjak pergi. Akhirnya, dia pergi juga. Kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi sedih.
“Besok aku akan kembali lagi,” Katanya. Dia akan kembali kesini?
karena terlalu senang, aku hanya bisa tersenyum.
“Aku pergi, sampai ketemu besok,” Dan Siwon pergi. Aku menatap kepergiannya sampai dia tak terlihat lagi. Aku benar-benar berharap dia akan datang. Dia membawa kebahagian dalam hari-hariku yang sunyi.

***
To be continue

Idem. No comment. Seminggu lagi mau Uan. Doain gw.

Monday, 16 March 2009

LUNA AFTER MIDNIGHT Chapter two

Title: LUNA AFTER MIDNIGHT

Author: Cindy Clarissa *real name*/Reila Nakahara *nickname*

Pairing: Choi Siwon *Super Junior!!!*

Genre: Romance



Bodoh.

Benar-benar bodoh.

Tidak. Ini lebih dari bodoh. Apa yang sudah aku lakukan? Berubah begitu saja didepan dia? Yah, aku tak punya pilihan. Tapi semua ini takkan terjadi seandainya aku tidak menampakkan diri di depan si tampan. Tapi bagaimana lagi? Aku tidak tahan juga untuk berbicara dengan orang setelah lama sekali aku bicara sendiri. Lagipula dia butuh pertolonganku. Tapi orang mabuk lainnya sering lebih parah dari dia dan aku berusaha tidak mau tahu. Tapi untuk si tampan… Aku mau tahu.

Aku tertolong karena dia dalam keadaan mabuk. Semoga saja dia mengganggap itu hanya mimpi atau halusinasi. Tapi dia sadar-sadar saja waktu berbicara denganku. Ukh! Aku bingung! Yang kuharapkan dia tidak mengatakan apapun tentang aku kepada siapapun. Kalaupun dia mengatakannya, dia pasti dianggap gila. Dia juga tidak maukan dianggap gila?

Aku sudah memintanya melupakanku. Mungkin saja sudah dilakukannya. Entah kenapa hatiku menjadi sakit. Aku ingin dia mengingatku…

***

Di suatu taman yang indah. Rumput-rumputnya begitu hijau dan bunga-bunga beraneka warna bertebaran disana-sini. Anak-anak berlarian riang gembira sementara ibu mereka menonton dengan senyum yang merekah. Tapi semua itu terlihat biasa. Biasa sekali dibandingkan dengan gadis yang duduk disana. Dia begitu menarik perhatian. Duduk tenang dengan wajah menunduk membaca buku. Aku penasaran. Kuhampiri dia. Dia sangat rupawan. Dia tersenyum menyambutku.

Tiba-tiba dunia menggelap. Awan putih digantikan oleh mendung. Senyum sang gadis memudar digantikan wajah yang sedih. Gelap. Gelap sekali. Dan ketika aku bisa melihat dengan jelas, gadis itu tidak ada. Yang ada didepanku adalah… Pohon.

Siwon begitu terkejut hingga terbangun. Nafasnya terengah-engah. Mimpi itu begitu jelas. Gadis yang berubah menjadi pohon. Hal ini benar-benar menggangunya sehingga terbawa kedalam mimpinya. Dia memandang berkeliling. Sepi. Kamarnya sepi dan diluar sudah terang. Siwon belum membuka jendela dan dia sama sekali tidak berminat melakukan hal itu. dia masih duduk diranjangnya. Masih diliputi perasaan shock.

Terdengar ketukan dipintu.

“Tuan, Tuan Siwon anda sudah bangun?” Tanya pelayannya dari luar.

Ada apa?” Tanya siwon enggan. Dia sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya.

“Tuan besar berpesan kepada saya untuk mengingatkan anda agar bangun sebelum jam sebelas dan menghadiri rapat dikantor, tuan,” Jawab si pelayan.

Siwon melihat kearah jam dimeja. Hampir jam sebelas. “Ya, aku tahu. Pergilah,” Perintah Siwon.

“Baik tuan,” dan pelayan itu pun pergi.

Dengan malas Siwon bangun dan menuju kamar mandi. Pikirannya masih dipenuhi oleh si gadis pohon misterius itu. Tapi yang paling penting saat ini adalah dia harus menghadapi sang Ayah.

***

“Tapi apa menurutmu aku bisa?” Tanya gadis berponi kepada temannya yang sedang sibuk menjilat lolipop. Si lolipop memandang si gadis berponi.

“Kenapa tidak bisa? Lagipula kau belum mencoba. Coba saja dulu,” Katanya.

“Tapi Jung Soo oppa itu cowok populer. Dia begitu tampan, pintar, dan jago olahraga. Banyak mengidolai dia. Aku? Bukan siapa-siapa,” Si gadis berponi mulai kehilangan kepercayaan diri. Aku jadi kasihan. Tapi si lolipop malah jadi gusar.

“Kau jangan patah semangat dulu dong. Kau dan Jung Soo oppa kan sudah saling mengenal. Dia juga baik padamu. Dia selalu menyapamukan setiap kita bertemu dia dikoridor? Apa lagi yang membuatmu ragu? Ayolah, coba saja dulu,” Si lollipop meyakinkan si gadis berponi. Gadis berponi jadi agak bersemangat.

“Aku tahu, seharusnya aku mencoba dulu,” Gumamnya.

“Nah! Begitu dong! Aku pasti akan membantumu,” Seru si lollipop senang. Si gadis berponi tersenyum. Mereka berdua mulai menyusun rencana-rencana. Tidak lama kemudian mereka beranjak dari bangku dan pergi. Aku sendiri lagi. Semoga saja si gadis berponi berhasil. Memang sulit kalau kita tidak mencoba dulu.

Lalu bagaimana denganku? Apa aku berani mencoba beranjak dari sini? Tidak. Aku terlalu takut. Aku takut kehilangan kaki ini. Aku takut mengorbankan tubuh yang kudapatkan untuk kedua kalinya. Dan aku tidak punya peyemangat seperti si gadis berponi itu.

Dan kenapa wajah si tampan melintas dibenakku? Mungkinkah dia jadi penyemangatku? Aku juga tidak tahu.

***

Membosankan,keluh Choi Siwon. Dia heran sendiri kenapa dia bisa bertahan didalam ruangan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya, kecuali ayahnya sendiri, dan selalu memandangnya diam-diam penuh rasa penasaran. Ayahnya juga selalu memasang mata memperhatikannya. Dan pembicaraan disini benar-benar tidak masuk telinganya. Siwon memang tidak pernah tertarik sama sekali terhadap bisnis. Tapi ayahnya bersikeras dan memaksanya kuliah bisnis. Hasilnya Siwon selalu bolos dan nilainya parah. Dan sang ayah menjadi semakin keras terhadapnya. Siwon berusaha melawan. Sesungguhnya ia juga ingin meloloskan diri dari ayahnya. Tapi dia masih menghormati ayahnya. Rasa hormat atau takut? Hal itu masih sering ia tanyakan kepada dirinya sendiri. Yang pasti ayahnya selalu berhasil menekannya dan Siwon selalu kalah. Dia selalu lari dari masalah dan membiarkan semuanya begitu saja..

Kau tidak boleh lari. Siwon tersentak. Dia jadi ingat perkataan si gadis pohon misterius dan pertanyaannya yang belum dijawab si gadis. Siwon menghela nafas. Dia jadi teringat lagi dengan gadis itu. Gadis itu tampaknya juga punya masalah dan lebih berat dari masalahku, pikir Siwon. Dia jadi ingin bertemu gadis itu dan menyingkap misteri yang menyelubunginya. Terutama soal pohon.

Siwon jadi teringat mimpinya…

Sudah jam satu. Sampai kapan aku harus berada disini…

***

Sudah sore. Satu persatu orang-orang mulai menghilang dari taman. Tapi perasaan cemasku belum hilang. Masih bergentayangan dalm hati dan pikiranku. Si tampan itu, siapa ya namanya?, dia tidak terlihat. Entah kenapa menurutku dia akan datang. Paling tidak untuk mencari tau tentang aku. Huh! Kenapa aku jadi berpikiran begitu? Tentu saja dia sudah melupakan kejadian kemarinkan? Pasti dia menganggap dirinya bermimpi. Ya, pasti seperti itu.

Tapi mengapa perasaanku jadi tidak keruan begini? Apa yang sebenarnya kuharapkan? Tidak. Aku harus menghentikan rasa tidak jelas dalam diriku. Aku harus melupakannya.

Er, tidak mungkin…

Dia datang! Si tampan! Ada apa dengannya? Dia terus menatapku dari jauh, sekarang dia duduk dibangku, masih tetap memandangku. Kenapa aku jadi deg-degan? Dia memang tampan. Siapapun gadis yang ditatapnya pasti akan merasa begitu. Dia terus memandangiku, sebagai pohon, dengan penasaran. Dia lalu berbalik dan memandang kedepan dengan tatapan kosong.

Lama, lama sekali dia duduk. Matahari sudah tenggelam. Dia masih duduk disitu. Aku penasaran, apa yang dipikirkannya, ya? Dia berbalik lagi, menatapku. Kali ini tanpa ekspresi. Lagi-lagi lama sekali…

Malam akhirnya turun. Aku masih jadi pohon dan si tampan masih duduk disitu. Apa yang dipikirkannya? Aku sangat penasaran. Mungkinkah dia sengaja menungguku? Minta penjelasan? Aku tidak bisa membaca pikirannya. Dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Yang dilakukannya hanya duduk dan memandangiku lalu memandang kosong ke depan.

Waktu terus berjalan. Sekarang hanya kami berdua saja disini. Tengah malam belum tiba. Akh! Apa yang akan kulakukan nanti kalau seandainya dia masih disini? Apa yang akan kulakukan setelah berubah nanti. Aku tidak tahu…

Dia masih duduk disitu.

Tengah malam semakin dekat dan aku semakin tegang dan si tampan tetap diam. Kira-kira apa yang akan terjadi nanti? Hanya tuhan yang tahu. Ah, dia akhirnya bergerak juga. Dia beranjak dari bangku, menatapku, lalu berjalan perlahan menjauh dari taman. Akhirnya dia pergi juga. Dengan begini aku bisa tenang.

Kurasa tidak. Aku malah jadi gelisah. Sepanjang dia duduk dibangku tadi tidak bisa kupungkiri aku merasa… senang. Tegang juga, tapi aku juga senang. Dan dia sudah pergi. Aku jadi merasa kosong.

Jam dua belas tepat. Akhirnya, jadi manusia lagi.

Aku membeku. Ada yang memegang pundakku. Aku berbalik, sangat ketakutan, untuk melihat siapa itu. Si tampan berdiri menatapku…

***

Ukh! Jadi juga ni fanfic. Thank to chaca yang menyuntikkan inspirasi ke gw yang lagi mumet ga jelas ini. Gw harap fanfic ini ga stu

Thursday, 5 March 2009

NEW PROJECT

Title: LUNA AFTER MIDNIGHT

Author: Cindy Clarissa *real name*/Reila Nakahara *nickname*

Pairing: Choi Siwon *Super Junior!!!*

Genre: Romance

This is really really created by me


Jam 12 tengah malam punya arti banyak. Jam 12 tengah malam adalah dimulainya hari baru. Bagi Cinderella, jam 12 tengah malam adalah akhir dari kebahagiannya. Akhir dari gaun pestanya. Akhir dari kereta labunya. Tapi bagiku, jam 12 adalah sebuah awal. Awal dimana akhirnya akar pohon itu menjadi kaki. Dimana aku bisa berdiri dan berjalan. Tidak seperti disiang hari ketika aku hanya bisa diam dan memandang orang lalu lalang dengan kaki mereka.

Malam yang gelap. Dan aku duduk seperti biasanya dibangku didepan pohonku. Sekarang pohon itu tidak ada. Itu karena aku duduk disini. Itu karena akulah pohonnya. Ya, aku adalah pohon. Mulai dari jam 4 pagi sampai jam 12 malam paling tidak. Sedangkan dari jam 12 malam sampai jam 4 pagi aku adalah manusia utuh. Kenapa bisa begitu? Ceritanya panjang.

Aku memandangi sekitar. Sepi. Aku menunduk. Rasanya ingin aku berlari mengelilingi kota ini. Bukan hanya duduk-duduk saja ditaman. Tapi aku terlalu takut. Aku takut menjadi keasyikan sehingga lupa waktu dan lupa berubah menjadi pohon. Aku bisa saja bertahan menjadi manusia melebihi jam 4 pagi. Tapi konsekuensinya adalah aku lenyap. Menghilang dari dunia ini. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku sudah diberi kesempatan kedua. Aku takkan menyia-nyiakannya. Jadi, aku terus duduk dibangku ini. Entah sampai kapan. Mungkin sampai keberanianku muncul atau sampai aku merasa sangat bosan. Dan aku belum merasa bosan.

Tik tok tik tok tik tok… Yah, waktu terus berjalan. Jam ditaman memperlihatkan bahwa sebentar lagi jam 4. Dan aku harus berubah. Sedih rasanya. Aku masih ingin menikmati lagi kaki ini. Tapi inilah takdirku.

***

Siang yang begitu panas. Orang-orang lewat. Kadang ada yang duduk dibangku didepanku. Aku menikmati percakapan mereka karena bagiku itu hiburan. Masalah politik, musik, film, ekonomi, semuanya. Mereka membicarakan itu semua. Aku mendengarkan. Tapi besoknya aku pasti sudah lupa. Aku hanya malas mengingatnya.

Ada seorang pria datang. Dia lalu duduk dibangku. Kenapa wajahnya begitu muram? Apa yang membuatnya sedih? Seandainya saja bisa kutanyakan, tapi aku tak bisa. Dan dia diam saja. Memandang lurus kedepan dengan kosong. Bila diperhatikan. Dia sangat tampan.

Lama sekali si tampan itu duduk, sampai ponselnya berbunyi. Dia menatap layar ponselnya dan ekspresinya berubah menjadi tidak senang.

“Halo,” Jawabnya enggan.

Bla bla bla. Setelah selesai berbicara dengan orang yang menelponnya, dia berdiri, bersiap pergi. Dia memandang berkeliling lalu pandangannya berhenti ke aku. Si pohon. Dan dia pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Ugh! Perasaan apa ini? Kuakui aku terpesona akan ketampanannya. Tapi bukan hanya itu. aku merasa ada getaran dalam hatiku. Aku berharap si tampan akan kembali lagi.

***

Di tempat lain…

Choi Siwon memasuki kantor itu dengan enggan. Rasanya dia sudah sangat berusaha untuk menjauhi kantor ini. Tapi sekeras apapun Siwon berusaha, dia tetap tidak bisa menghindar. Resepsionis memanggilnya tampak ingin mengatakan sesuatu. Tapi Siwon tak memperdulikannya. Jadi, dia terus saja berjalan menuju lift.

Akhirnya sampai juga Siwon pada ruangan yang dia tuju. Dia terdiam agak lama didepan pintu. Lalu akhirnya dia mengetuk juga pintu itu.

“Masuk,” jawab suara dari dalam ruangan.

Siwon memasuki sebuah ruangan luas dengan dekorasi minimalis. Tampak seorang pria separuh baya duduk dibelakang meja, menunggunya.

“Duduklah,” kata Pria itu sambil menunjukan bangku didepannya.

Siwon duduk tanpa mengatakan apa-apa. Pria itu menajamkan pandangannya.

“Kau kemana saja?” tanyanya. Siwon tidak menjawab.

“Kau tahukan kalau kau harus menghadiri rapat itu. kau harus lebih banyak berada disini untuk mepelajari lebih banyak tentang perusahaan yang nantinya akan kau pimpin. Kau harus membiasakan diri.”

Siwon tetap diam.

Mereka berdua terdiam cukup lama. Sang pria masih menatap tajam Siwon. Siwon membalas tatapannya.

“Kau tahukan ayah, aku tidak pernah suka berada disini. Dan aku tidak mau memimpin perusahaan manapun,” Siwon akhirnya bersuara.

“Kalau aku mengatakan kau akan memimpin perusahaan ini, kau akan memimpinnya. Jangan membantah kata-kataku,” balas sang ayah dingin.

“Kau tidak bisa mengatur takdirku, ayah,” Siwon berusaha untuk tetap tenang.

Ayah Siwon memandang sang anak dengan angkuh. “Tentu saja aku bisa karena aku adalah ayahmu dan kau bergantung padaku. Kau pikir darimana kau mendapatkan semua yang kau miliki dan segala kemudahan yang kau rasakan?”

Siwon sudah tidak tahan. Matanya sekarang menatap sang ayah penuh kebencian. Dia berdiri dan melangkah secepat mungkin ke pintu. Dia benar-benar tidak tahan berada seruangan dengan orang yang selalu mengintimidasi dirinya dan mengatur hidupnya. Dia sudah muak.

“Ingat kata-kataku, Siwon,” Ayahnya berkata sebelum Siwon benar-benar keluar dari ruangannya.

Siwon membanting pintu.

***

Teng.. teng..

Jam 12 tengah malam tiba. Akhirnya aku menjadi manusia. Jangan pernah berpikir bahwa aku akan telanjang. Tidak. Aku memakai pakaian. Pakaian yang sama sejak pertama kali aku menjadi pohon. Aku memakai blus lengan panjang dan rok selutut. Dan aku memakai itu terus bahkan saat musim dingin. Aku tidak kedinginan. Mungkin karena aku bukan manusia utuh makanya bisa begitu.

Malam ini lagi-lagi aku sendirian. Pernah ada yang lewat. Orang yang pulang kemalaman, gelandangan, pasangan mesum, orang mabuk, sampai orang-orang misteruis berpakaian hitam-hitam yang tidak aku tahu apa pekerjaannya. Mereka kadang duduk dibangku. Kalau sudah begitu, aku langsung bersembunyi. Aku tidak mau terlihat, terutama oleh orang mabuk dan orang misterius. Mereka tampak menakutkan dan berbahaya. Dan mereka tidak ‘menyadari’ hilangnya pohon dibelakang bangku. Mungkin karena keadaan mereka yang kacau atau apa.

Tapi selebihnya aku selalu sendiri. Ada keinginan dalam hatiku untuk memilki teman. Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengan siapapun. Aku… Tunggu. Ada orang mabuk! Dia menuju kesini, ke arahku. Oh, aku harus bersembunyi lagi. Er, sebentar… Aku mengenalinya. Orang mabuk itu. Dia… Si tampan.

Keadaannya jauh lebih kacau daripada tadi siang. Upps, dia terjatuh. Aku bergegas mendatanginya. Niatku untuk bersembunyi kuurungi saja.

“Kau baik-baik saja?” Aku bertanya seraya membantunya berdiri. Aroma minuman keras tercium jelas.

Dia menyipitkan mata berusaha melihatku dengan jelas. Sepertinya pandangannya agak kabur. “Kau siapa?” Dia agak linglung.

Aku tidak menjawab. Aku mendudukannya dibangku, lalu duduk disampingnya. Dia menunduk sambil memegangi kepalanya. Aku merasa prihatin.

“Apa yang terjadi padamu? Kau tertimpa masalah?

Dia terdiam agak lama. Aku menunggu jawabannya. Dia malah muntah. Aku kaget lalu langsung mengelus-elus punggungnya. Dia mencengkram rambutnya.

“Hidupku masalahku,” Kata si tampan akhirnya. Suaranya terdengar lemah.

Aku menghela nafas. Masalahnya pasti berat.

“Masalah selalu menjadi temannya manusia,” aku bergumam sambil menatap langit. “Mereka selalu menyertai manusia.”

Si tampan diam. Kami terdiam cukup lama. Mendadak aku jadi teringat akan masa laluku. Masa lalu yang menyebabkan ini semua. Yang menyebabkan aku jadi begini. Rasanya pedih harus mengingatnya. Tapi ini akan selalu menghantuiku.

“Dulu aku berteman akrab dengan masalah,” Pandangannya beralih dari langit ke wajaku. “Bodohnya, aku tidak mau mengahadapinya. Aku malah lari. Akibat yang kutanggung sangat besar,” Aku bergumam llirih.

“Manusia hanya bisa lari,” Gumamnya. Aku memandangnya tajam.

“Kau tidak boleh lari.”

Dia balas memandangku tajam.

“Bagaimana caranya? Bagaimana supaya aku tidak lari?”

Aku terdiam lalu tersentak saat pandanganku berada pada jam taman. Lima menit lagi jam 4. Aku panik.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” Dia agak kaget melihat perubahan mendadak pada diriku. “Dan kau kenapa?” Tanyanya lagi.

Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berubah didepan dia? Tampaknya harus. Aku tidak punya pilihan lain. Apa dia bisa menjaga rahasia? Ya Tuhan… Waktu terus berjalan. Aku tidak boleh terus diam begini.

Aku memandang si tampan penuh arti. “Kumohon lupakan apa yang terjadi padamu disini. Lupakanlah aku,” Bisikku tegang.

“Apa maksudmu?” dia balas berbisik. Sangat bingung.

Aku berlari ke belakang bangku. Dia berdiri saking terkejutnya. Aku memandangnya untuk yang terakhir kalinya sebagai manusia.

“Selamat tinggal,” Bisikku sedih. Aku takkan melupakanmu, sambungku dalam hati. Akhirnya aku berubah menjadi pohon.

Reaksi si tampan sesuai perkiraanku. Super shock. Dia berdiri cukup lama. Memandangku. Sebagai pohon. Sepertinya berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Dia masih berdiri mematung sampai matahari pagi terlihat. Akhirnya dia memukul kepalanya dan memutuskan untuk pergi.

***

To be continue...


Akhirnya bikin fanfic jg stelah membeku sekian lama. Abis skrng lagi suka ma Suju, trutama Siwon. Langsung deh imajinasi kmana-mana.


Monday, 17 November 2008

SHUNKASHUUTOU part 3

Author: Reila Arashi

Title: Shunkashuutou

Saga, Tora, Hiroto, dan Nao menunggu di luar ruang guru dengan agak bingung dan kesal. Tampaknya mereka akan dimarahi sensei lagi. Nao yang kelihatan paling kesal.

Didalam, Shou sedang dimarahi.

“Mau jadi apa kau kalau begini terus?! kau ini suka melamun dan benar-benar malas. aku tau kalian kemarin itu sebenarnya bolos, walau si ketua kelas bersikeras kali ada urusan,” Sensei berceramah.

Shou malah tampak melamun.

Sensei menggelengkan kepalanya.

Shou ikut-ikutan menggelengkan kepalanya juga.

Giliran saga.

“Sakamoto, apa kau tau aku mengajar pelajaran apa dikelas?” Tanya Sensei pada Saga yang lagi-lagi tampak mengantuk.

Saga terdiam. Ngajar apa sih dia? Er, rasanya aku pernah dengar dia menyebut-nyebut tentang alat reproduksi, pikir Saga bingung.

Sensei menatap Saga dengan pasrah. “Tentu saja kau bingung. Kau selalu tidur setiap jam pelajaran. Mau jadi apa kau ini! Ya ampun.”

Saga menutup mukanya. Tak ingin ketahuan sedang menguap.

Nao.

“Murai, kau juara kelas dan murid berprestasi. Tapi kenapa kau ikut-ikutan bolos dengan anak-anak pemalas itu? Kau membuatku kecewa. Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu ini. Ingat itu,” Perintah Sensei Tegas.

“Baik Sensei.”

Dan Tora.

“Kau otak mesum! Berkali-kali aku menangkap basah kau membaca majalah yang tidak benar. Itu hanya akan menghancurkan masa depanmu.”

“Ya, sensei,” Tora berusaha bersikap ramah.

“Apa itu yang ada dikantung bajumu?” tanpa menunggu jawaban dari Tora, sensei langsung mengambil barang yang ada dikantung baju Tora. Ternyata Rokok.

“Sudah kuduga,” Sensei melempar Rokok itu ketempat sampah.

Tora menyesal sudah bersikap ramah.

Terakhir, Hiroto.

“Makan, makan, makan saja kerjaanmu! Apa kau pernah membuka buku pelajaranmu?!” bentak sensei. Hiroto yang memang sedang kesal balas membentak.

“Berisik! Aku bosan tau!” Hiroto ngeloyor pergi dan membanting pintu.

Sensei benar-benar lelah.

***

Mereka pasti dimarahi. Aku sudah menyakinkan sensei kalau mereka memang benar-benar pergi ke pernikahan tante Saga. Tapi sensei tidak mempercayaiku. Reputasi mereka yang jeleklah yang membuat sensei begitu. Padahal disitukan ada Nao.

Tanpa kusadari jam istirahat ini aku berkeliaran terus disekitar ruang guru. Sampai Saga lewat…

“Sakamoto,” Panggilku nekat. Apa yang sudah kulakukan???!!

“Ng?” Saga berhenti dan memandangku dengan bingung.

“Er, kalian dimarahi sensei gara-gara yang kemaren ya?” Tanyaku. Pergilah wahai kegugupan…

“Begitulah,” Jawabnya singkat.

“Ah, gomen. Padahal aku sudah berusaha menyakinkan sensei. Tapi dia tidak percaya. Gomen,” kataku merasa bersalah sambil membungkukan badan dengan ketegangan yang kusembunyikan mati-matian.

Saga agak kaget. “Sudahlah, kami ini memang selalu menjadi sasaran sensei, kok.”

“Begitu, ya?” Aku merasa agak lega.

Saga tersenyum. Tersenyum dengan manis. Tersenyum untukku.

Aku mematung dan membalas senyumannya dengan senyumku yang kurasa kacau. Dia lalu pergi. Sepertinya ke atap.

Sedangkan aku masih berdiri disini.

“Hey, apa kau melihat Shou?” Tanya seseorang membuatku tersadar. Aku berbalik.

Hotaru rupanya.

“Sepertinya di atap,” Jawabku masih terpengaruh dengan kejadian tadi. Aku masih sulit kembali ke alam nyata.

“Kau kenapa?” Tanya Hotaru heran.

“Tidak apa-apa,” Aku langsung kabur.

“Tadi kulihat dia berbicara dengan Saga,” Gumam Hotaru curiga.

***

Di atap, anak-anak Alice Nine tidak nge-band seperti biasa. Hanya duduk-duduk santai. Mereka tampak kehilangan mood.

Nao sedang serius membaca buku panduan menghadapi ujian kelulusan. Dia memandang Tora yang menekan headset ke telinganya.

“Baca ini,” Nao menyodorkan buku itu ke Tora. Baru melihat sampul depannya saja Tora langsung terkulai lemas. Shou mengambil buku itu dan melihat-lihat isinya dengan malas. Lalu dia memberikan buku itu ke Saga. Tanpa rasa ketertarikan sedikitpun, dia menyodorkannya ke Hiroto dan langsung dilepar jauh-jauh oleh Hiroto.

“Payah,” Gumam Nao.

***

Ujian sebentar lagi. Festival band juga sebentar lagi. Alice Nine, kecuali Nao lebih sibuk memikirkan festival band. Nao tampaknya mengutamakan ujian, namun tak pernah ketinggalan latihan.

Alice Nine, kalau mataku tidak salah, sedikit agak tempramen dan lebih malas daripada biasanya. Suasana yang sungguh tidak menyenangkan. Saga juga lebih cuek daripada biasanya. Dia juga sering menghilang dari kelas. Kalau tidak ada dia, rasanya ada yang kurang…

Suasana yang tidak nyaman begini membuat firasatku tidak enak. Aku mencium bau masalah…

***

to be continue

Friday, 7 November 2008

SHUNKASHUUTOU part 2

Author: Reila Arashi

Title: Shunkashuutou

“Coba lihat,” Hiroto memperlihatkan selebaran berwarna coklat yang agak kusut.

Saga, Tora, Shou, dan Nao berkonsentrasi untuk membacanya.

“Kita harus ikut!” Celetuk Shou.

“Tentu saja, ini adalah event BESAR! Festival band sekolah,” Seru Hiroto bersemangat.

“Baiklah! Kalau begitu mulai sekarang kita harus sering berlatih. Jangan sampai membuat malu band kita yang sedang naik daun ini,” kata Tora.

“YOSH!!!”

“Ngomong-ngomong kalau jam-jam sekarang Onpu studio memberi diskon 50% lho,” Gumam Saga yang mengantuk.

“Benarkah?!”

Yap.”

“kalau begitu kita kesana sekarang. Latihan!” kata Hiroto sambil berdiri. Begitu juga yang lain, kecuali Nao.

“Tunggu dulu,” Sergah Nao.

Ada apa Nao?” Tanya Shou heran.

“Pergi sekarang berarti kita bolos?”

“Benar sekali,” Jawab Hiroto tampak tak perduli.

“Tidak. Aku tidak mau membolos. Lagipula pelajaran pertama belum dimulai,” Tolak Nao galak.

Hiroto tampak sebal. “Kau ini! Membolos sekali ini saja kenapa sih?”

“Huh! Bolos sekali bisa mempengaruhi nilaiku,” Nao tak mau kalah.

Hiroto juga tak mau kalah dan bersiap membalas kata-kata Nao. Namun Tora langsung memotong. “Berisik! Kita ‘izin’ saja. Bilang saja mau pergi ke acara pernikahan tante Saga. Bagaimana?”

Saga menatap sinis Tora. “Tanteku?”

“Kau pikir sensei mau menerima alasan seperti itu? Dan mempercayai kita? Terutama kalian yang imejnya sudah terlanjur buruk dimata sensei?” Tanya Nao kesal.

“Jangan bicara begitu Nao. Yah kalau soal itu sih, kita minta tolong pada dia saja,” kata Tora tersenyum.

***

Pelajaran pertama sudah mau dimulai, tapi Alice Nine tidak terlihat. Mereka dimana ya? Saga mana ya?

Apa mereka mau membolos?

“Hey,” panggil seseorang. Aku berbalik. Rupanya Tora. Dibelakangnya berdiri Alice Nine yg lain. Kenapa Nao bermuka kusut begitu?

Ada apa?” Tanyaku heran. Tumben mereka ada urusan denganku.

“Kami mau minta tolong. Ehm, kami mau izin pergi ke pernikahan tante Saga. Tolong katakan itu pada sensei ya,” Pinta Tora.

“Kenapa harus aku yang mengatakannya?” Tanyaku lagi. Kumohon Saga jangan pandangi aku terus…

“Yah, kau kan ketua kelas. Lagipula kalau kami yang bilang, sensei tidak akan percaya. Tolonglah kami ketua kelas,” Tora memohon dengan pandangan memelas. Aku jadi tidak tega…

“Baiklah,” Kataku akhirnya. Mereka bersorak senang.

“Kau baik sekali!”

“Ayo pergi! Nanti sensei datang.”

“Shou mau kemana?” Tanya seorang gadis. Dia Hotaru, anak kelas 2A. Pacar Shou. Mereka sering bertengkar. Tapi mesra sekali. Perpaduan yang aneh.

Shou tampak kaget. “Anu, aku mau ke pernikahan tante Saga.”

“Apa kau akan kembali untuk makan siang?” Tanya Hotaru khawatir.

“Tidak. Aku tidak akan kembali sampai jam sekolah berakhir. Aku kembali besok. Waktu sekolah mulai lagi,” jawab Shou ketar ketir.

Hotaru medadak jadi kesal. “Padahal aku sudah membuat makan siang untuk kau! Shou jahat!” Hotaru berlari keluar. Shou berteriak memanggilnya.

“Hota! Dengar dulu penjelasanku! Kau jangan marah dulu!”

“Hey Hotaru san! Makan siangnya buatku saja!” seru Hiroto dan langsung mendapat jitakan oleh Shou.

“Dia marah lagi,” Kata Shou bingung.

“Sudahlah, nanti juga baik lagi. Ayo pergi,” Ajak Tora. Shou menurut dan mengambil tasnya dengan tidak bersemangat.

Mereka pergi. Mataku terus mengikuti mereka, lebih tepatnya Saga, sampai menghilang dari pintu. Dan… Saga mendadak menatapku balik. Aku langsung menunduk! Ya tuhan! Setelah beberapa menit, aku memberanikan diri untuk mengangkat wajahku. Mereka sudah tidak ada.

***

Keeseokan harinya disekolah,

“Hota, kau jangan marah lagi ya? Aku kemarin memang harus benar-benar pergi. Kau harus mengerti,” bujuk Shou dengan pandangan mata yang amat sangat menyesal. Hotaru luluh. Tapi tak mengatakan apa-apa.

“Hota, katakanlah sesuatu! Jangan membuatku semakin merasa bersalah,”

“Aku sudah membuat makan siang. Kau harus memakannya,” Kata Hotaru dengan muka memerah. Shou senang sekali.

“Tentu saja!”

Tampaknya mereka sudah berbaikan. Baguslah. Aku memandang berkeliling. Saga sedang melamun. Apa yang sedang dipikirkannya ya? Yah Saga, kau benar-benar tampan. WHOA! Lagi-lagi aku tertangkap basah oleh Saga. Dia menatapku balik. Aku langsung memalingkan wajah ke arah Hiroto yang sedang makan dengan lahap.

“Kenapa memandangiku? Kau mau?” Hiroto menawariku makan. Aku menggeleng. Aku jadi sangat tegang. Apa Saga masih melihatiku? Akh! aku ini bodoh. Bisa ketahuan begitu.

“Ehm,” Sensei mendadak masuk kekelas. Kelas mendadak menjadi hening.

“Murai Naoyuki , Kohara Kazamasa, Sakamoto Takashi, Amano Shinji, Ogata Hiroto, kalian berlima harap ke kantor guru sekarang. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian,” perintah sensei dingin. Alice Nine…

***

TO BE CONTINUE

Akhirnya jadi juga part 2! Setelah sibuk dan otak buntu, akhirnya! Yah, sorry bagi yang membaca ini pic. Gomen, kalo jelek. Dibikin ditengah pressure-pressure ma banyak hal deh yg menyita waktu. Part 3 nyusul. Gw juga males bikin panjang- panjang. Gw cepet2 supaya tamat.

Friday, 17 October 2008

Shunkashuutou part 1 (Reila Arashi's version)

SHUNKASHUUTOU Part 1 (Reila Arashi’s version)

Author : Reila Arashi

Tittle: Shunkashuutou

This fanfic inspired by Shunkashuutou Pv yg keren itu.

Kelas 2B, SMA Mori, Tokyo,

Hari ini berjalan seperti biasa. Tapi berada di kelas ini bagiku tidak biasa. Ada lima orang special di sini. Special bagi para cewek. Mereka adalah ALICE NINE!!! Band sekolah yg lagi popular sekali. Ada shou(vocal), Saga(bassist), Hiroto(guitarist), Tora(guitarist), dan Nao(drummer).

Tapi… coba kalian lihat sendiri. Mereka benar-benar… tidak peduli pada sensei yg sedang mengajar! Kecuali Nao. Dia tampak serius memperhatikan apa yg sedang sensei terangkan. Dia memang pintar dan rajin. Dia juga selalu mendapat peringkat satu lo! Yah, berbeda dengan anggota Alice Nine yg lain. Shou sedang asyik melihat keluar, entah apa yg dia lihat. Hiroto makan dengan rakus begitu! Er, dia menutupi makanannya dengan buku. Tora membelakangi sensei. Dia membaca majalah. Aku curiga itu majalah yg tidak benar… Saga? Tidur. Seperti biasa, dia tampak manis…

“Baiklah anak-anak, sampai sini ada yg belum dimengerti?” Tanya Sensei. Dia melihat sekeliling dan pandangannya berhenti pada Alice Nine. Kecuali Nao tampaknya. Anak-anak lain jadi ikut melihat mereka. Keempat anak badung itu sama sekali tidak sadar kalau mereka menjadi pusat perhatian sekarang.

Sensei naik darah! Dia tampaknya lelah sekali mengahadapi mereka berempat. Mereka selalu seperti itu! Bukan hanya kali ini saja.

BUKH!!!

“Eeeh!” Shou kaget.

PLAK!!!

“Aduh!” Makanan Hiroto terjatuh.

“Laaah? Majalahnya…” Tora mengeluh. Sensei mengambil majalahnya.

“Majalah yg merusak moral!”

BLETAK!!!

“Ng?” Saga terbangun.

“Fiuh…” Nao tampak tidak mau tau.

Sensei memandangi mereka dengan murka.

“KELUAR KALIAN!!!!!!!!”

Di luar,

Keempat anak itu terdiam sambil berdiri di koridor. Mereka bukan merenungi dan menyesali kesalahan yg telah mereka perbuat. Tapi Shou sibuk memikirkan mobil yg dia lihat melintas waktu dikelas tadi, Hiroto masih merasa lapar, Tora memikirkan cara untuk medapatkan kembali majalahnya karena harga tidak murah, dan Saga masih mengantuk.

“Tapi lebih enak disini kan? Di dalam membosankan,” Gumam Hiroto.

“kau benar pon,” kata Tora.

Bletak!

“Apa sih, Shou?” Saga memegangi kepalanya dengan kesal gara-gara dijitak Shou.

“Aku hanya meniru sensei sewaktu menjitakmu tadi. Itu lucu sekali!” Seru Shou sambil tertawa. Yg lain ikut tertawa.

“Mmm, baiklah! Saga berubahlah menjadi kepribadianmu yg jahat. Dan disaat itulah aku menjadi Hiroto-man. Kita bertarung sampai mati!” Hiroto tampak bersemangat dan mengacungkan tinjunya ke Saga.

“Boleh saja,” Saga memejamkan matanya berusaha untuk berkonsentrasi.

“Lalu kami jadi apa?” Shou menujuk dirinya dan Tora.

“kau jadi cewek yg tidak berdaya sekaligus korban kejahatan Saga. Dan Kau Tora, kau jadi polisi saja! Yg awalnya sok berani tapi pada akhirnya memohon bantuan Hiroto-man.”

“Eeeeekkhh??!!!”

“Ayo kita mulai!”

Sementara itu di dalam kelas,

“Jawab pertanyaan yg ada dipapan tulis ini dan wak…” perkataan sensei terputus karena suara-suara ribut yg berasal dari luar.

“Tolong! Ada orang jahat!”

“Hahahaha!!!”

“Bagaimana ini aku tidak sanggup melawannya! Dia terlalu kuat!”

“Jreng! Jreng! Akulah Hiroto-man! Pembela kebenaran, penumpas kejahatan dan penjaga perdamaian!”

Kapur yg digenggam sensei sampai hancur. Aku hanya berdoa semoga mereka tidak apa-apa. Terutama Saga…

Brak!!!

Pintu kelas terbuka dengan keras. Keempat anak itu kaget! Lalu mereka bertingkah sok polos seakan-akan tidak melakukan kesalahan apapun. Sensei rupanya hanya memandangi mereka dengan geram, tapi tidak melakukan apapun. Mungkin dia lelah menghadapi mereka.

Syukurlah…

***

Treeeng…!!!

Bel pulang berbunyi. Yah, saatnya pulang. Alice Nine sepertinya senang mendengar bunyi bel, terutama Hiroto. Dia langsung berlari keluar menuju loker begitu sensei keluar untuk mengambil gitarnya. Alice nine yg lain mengikutinya.

“Atap performance, eh?” Seru Shou bersemangat.

“Let’s go!!!”

Wah, mereka akan melakukan atap performance lagi!!! Atap performance maksudnya mereka akan main band diatap. Anggap saja atap itu milik mereka, soalnya mereka tidak memperbolehkan siapapun berada disana. Bahkan hanya untuk menonton mereka saja. Kau bisa dibunuh! Sayang, padahal aku ingiiiiin sekali menonton mereka. Aku ingin melihat Saga. Walau harus bayar tiket ke atap tak apa. aku sudah lama menyukai Saga. Bahkan sebelum Alice Nine terkenal. Lah? Kenapa aku malah mengocehkan hal yg tidak jelas! Lupakan Saja.

Kelima cowok cakep itu menaiki tangga. Hiroto mengoceh tentang lagu yg baru diciptakannya. Sepertinya mereka mau memainkan lagu baru itu. Yak! Pintu atap ditutup.

Dan aku hanya bisa mendengar dari tangga kalau mereka sudah mulai bermain. Suara bass Saga terdengar dari sini.

****

TO BE CONTINUE

Sekilas tentang fanfic ini. Setelah menonton Pv Shunkashuutou gw langsung jatuh cinta! Keren bgt tuh pv. Pv Arisu fav. Gw nih. Dari menonton Pv ini, trus mengkhayal terus-terusan, akhirnya terciptalah ini fanfic. Fanfic ini masih ada lanjutannya. Part 1 baru pengenalan tokoh. Masalah belum muncul. Mungkin di part 3. Part 2 kira2 nyeritain awal mula masalah terjadi. Kira2 gitulah.

Saturday, 4 October 2008

I just can't live without you...

Genre: sad tragic, bl

Author: Reila Arashi

Pairing: UruhaXHiroto

Peti mati itu perlahan diturunkan. Tanah mulai menutupinya hingga akhirnya peti mati itu tak terlihat lagi. Bunga-bunga mulai ditaburkan. Semua org yg mengelilingi makam itu tidak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata. Semua orang menangis. Namun kesedihan mereka tak sebanding dengan kesedihan seseorang yg ada disana. Seseorang yg berdiri paling dekat dengan nisan makam itu.

“Pon..”

Hiroto menoleh. Rupanya Shou yg memanggil.

“Ayo pulang. Acaranya sudah selesai.”

Hiroto diam. Dia menampik ajakan Shou. Dia masih ingin disitu. Dia masih ingin dipemakaman itu.

“Pon…” panggil Shou lagi.

Hiroto masih diam. Tiba-tiba pundaknya ditempuk dengan lembut.

“Hiroto, aku tau kau sangat kehilangan dia. Kami pun begitu. Bahkan sejujurnya kami tidak rela dia pergi,” ucap Aoi sedih.

“Yah, tidak ada lagi orang yg akan menantangku main game,” kata Kai sambil menerawang ke atas. Memikirkan kembali masa-masa itu.

“Setidaknya aku tidak akan mendengar dia membicarakan dirinya terus. Dia itu suka sekali memuji-muji dirinya sendiri. Dia…” reita menunduk. Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Orang narsis di dunia ini berkurang satu deh,” kata Ruki sambil mengusap air matanya yg tampaknya tidak mau berhenti mengalir. Saga menepuk-nepuk pundaknya, berusaha untuk menenangkannya.

“Tapi hidup jalan terus. Kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Dia pasti sedih dan tidak tenang bila melihat kita begini. Kita harus tegar dan tetap tersenyum. Terutama kau Hiroto, kau harus tetap bersemangat!” kata kai yakin. Rupanya dia bertekad untuk tidak jatuh terlalu dalam ke dalam kesedihan. Walau hatinya perih sekali.

Hiroto berusaha untuk tersenyum. Tapi rasanya sulit sekali untuk melakukannya. Hatinya benar-benar hancur.

“Sebaiknya kita semua pulang. Hari semakin gelap,” kata Tora.

“Ya, ayo..” ajak Nao.

Sulit sekali bagi Hiroto untuk menggerakan kakinya. Dia masih ingin tetap di situ. Masih ingin memandang nisan itu.

Shou menarik tangannya. “Ayo, pon..”

“Goodbye our big brother. We won’t forget you! Kau akan selalu dikenang sebagai personel The Gazette yg hebat,” ucap kai tulus.

“Yeah, goodbye my best partner. Kau adalah gitaris yang paling keren…” lirih Aoi. Mereka semua akhirnya melangkah pergi. Namun Hiroto belum melepaskan pandangannya dari nisan marmer yang bisa itu. Kata-kata yang tertulis dinisan itu masih malayang-layang dikepalanya.

TAKASHIMA KOUYOU

09-06-1981

25-06-2008

“Uruha…”

***

Hiroto masih membisu. Sejak dari pemakaman tadi dia tidak berbicara sedikit pun. Dan sekarang dia berbaring sendirian di ranjang tempat dia dan Uruha menghabiskan malam bersama.

Hiroto mengingat kembali kenangan-kenangannya bersama Uruha. Saat pertama kali bertemu Uruha, saat Uruha menyatakan cinta padanya, saat Uruha mengajaknya ke Disneyland, saat dia bertengkar dengan uruha, saat dia ketakutakan karena petir dan uruha memeluknya sepanjang malam untuk menenangkannya, saat Uruha memegang tangannya, saat Uruha menciumnya… saat2 itu… saat2 yang ingin Hiroto ulang kembali…

Semakin memikirkannya, kepala Hiroto semakin sakit. Dia benar2 merindukan uruha. Dia sangat merasa kehilangan. Dia ingin Uruha di sini untuk mengucapkan selamat malam kepadanya. Seperti yang Uruha lakukan setiap malam. Dia hanya menginginkan Uruha kembali. Dia sangat menginginkan Uruha kembali… hanya Uruha…

Dia hanya ingin bisa bersatu dengan Uruha.

Hiroto berdiri. Dia seperti mendapat ilham. Dia berjalan menuju lemari dan tampak mencari-cari ‘sesuatu’. Dia kahirnya menemukan ‘sesuatu’ yg dia cari…

“Percuma aku hidup kalau kau tidak ada di sampingku,” lirih Hiroto. Dia memandangi pisau yg ada ditangannya. “Hanya ini cara satu2nya agar aku bisa bersatu lagi denganmu,” Hiroto tersenyum.

“Aku datang Uruha…”

Tapi…

“Pon…”

Hiroto terkejut. Pisau yg ada ditangannya sampai terjatuh.

“Uruha?”

“Ya… ini aku pon…”

Hiroto menoleh ke arah suara itu. URUHA?! Tak salah lagi! Tatapan mata itu, rambut pirangnya!!

Hiroto menjerit dan berlari ke pelukan uruha. Uruha tersenyum.

“Uruha!!! Kau kembali! Jangan tinggalkan aku lagi… aku tidak bisa hidup tanpamu…”

Uruha masih tetap tersenyum. Dibiarkannya Hiroto menangis dipelukannya selama beberapa saat. Lalu kedua tangannya dia memegang pundak Hiroto dan dia memandang dalam2 pada kedua mata Hiroto.

“Pon, aku disini Cuma sebentar.”

Hiroto yg sejak tadi terisak menjadi terdiam. “Maksudmu?”

“Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal karena aku akan ‘benar-benar’ pergi. Pon, kumohon jangan lakukan hal tadi. Belum saatnya untukmu… kau harus tetap hidup dan terus berjuang.”

Tangis Hiroto kembali pecah. Kali ini lebih nyaring dan pilu.

“Uruha…”

“Selamat tinggal pon-pon, jaga dirimu baik-baik. Aishiteiru…” ucap Uruha lembut. Dia lalu mencium kening Hiroto dengan hangat.

“TIDAK!!! URUHA JANGAN PERGI!!! JA.. Uruha? URUHA! URUHA!” Hiroto terus menjerit-jerit memanggil nama Uruha. Tapi uruha sudah pergi. Benar-benar pergi untuk selamanya…

“Uruha jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu! Uruha.. Uruha…”

“Pon?”

“URUHA!!!”

“Pon? Pon-pon!”

Hiroto membuka kedua matanya yang bersimbahan air mata. Dia menoleh ke arah kea rah suara yg memanggilnya. Suara itu adalah suara Uruha yang memandanginya dengan bingung dan khawatir.

Ada apa pon? Dari tadi kau menjerit-jerit memanggil namaku terus.”

Nggak tanggung2 Hiroto langsung memeluk Uruha.

“URUHA!!!”

“Eeeh?” Uruha semakn bingung dibuatnya.

“Uruha! Jangan mati! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!”Hiroto berteriak histeris dan uruha mendadak tersenyum. Rupanya dia paham kalau pon-ponnya tersayang bermimpi buruk tentangnya.

“Kalau kau mati, aku juga akan mati! Kalau kau pergi, aku akan ikut pergi! Kemanapun kau pergi…”

“Pon, aku masih hisup. Buktinya kau bisa menyentuhkukan? Dan aku tidak pergi kemana-mana. Sepanjang malamkan aku selalu di sampingmu.”

Hiroto masih terisak. Uruha mengelus-elus kepalanya dengan lembut. “kau Cuma bermimpi buruk. Jangan terlalu dipikirkan.”

Hiroto memandang Uruha yg amat ia sayangi.

“Kau janji ya tidak akan meninggalkanku.”

“Ya, aku janji. Aku akan selalu disampingmu.” Hiroto tersenyum. Uruha lalu mencium kening Hiroto lalu turun ke bibir Hiroto. Mereka berciuman dengan hangat. Mimpi buruk Hiroto seperti melebur dan terlupakan.

Owari…

****

Aneh,,,

Jadi merasa mual.